Kisah Kayu Bakar Karet Milik Gubernur Banten

Kisah Kayu Bakar Karet Milik Gubernur Banten Wahidin Halim, Ada kisah indah yang di alaminya

0 222

Saya yakin setiap orang punya kenangan, punya rasa nostalgia yang mengingatkan akan sesuatu, apakah nostalgia dengan sebuah lirik lagu, nostalgia dengan makanan, ataupun nostalgia tentang sebuah tempat wisata. Sayapun sendiri memiliki sebuah nostalgia tentang kayu bakar karet, yang mengingatkan saya untuk terus selalu bersyukur dengan nikmat Allah yang telah diberikan kepada saya saat ini, sampai sekarang menjadi Gubernur Banten.

Ketika saya melewati jalan Pandeglang, di dalam mobil saya melihat begitu banyak tumpukan kayu bakar dari pohon karet berada di pinggir jalan, yang sengaja orang jual untuk menyambung hidupnya dalam keadaan seperti sekarang ini. Saya seketika itu juga meminta supir saya untuk menghentikan laju mobilnya dan meminggirkan mobil ke pinggir jalan agar tidak menghalangi para pemakai jalan lainnya.

Saya turun dan saya tanya siapa yang menyimpan tumpukan kayu bakar di pinggir jalan ini, setelah berbincang cukup lama dengan pemilik kayu bakar karet itu, saya akhirnya membeli semua kayu bakar yang di jual tersebut dan saya minta di bawa kerumah pribadi saya yang ada di Pinang.

Setelah ijab qobul membeli kayu bakar selesai, saya melanjutkan perjalanan kembali, didalam mobil pikiran saya mengembara kembali ke tahun 60-an, dimana saya masih sekolah SD Negeri Pinang Tangerang. Saat itu, belum ada minyak tanah di jual bebas, dan juga belum ada gas seperti sekarang ini, maka masyarakat saat itu untuk memasak makanannya, hanya mengandalkan kayu bakar.

Kayu Bakar Karet Milik Gubernur Banten Wahidin Halim

Kayu bakar di jual orang dengan pikulan untuk membantu orang-orang yang tidak punya waktu untuk mencari kayu bakar. Namun saya pada waktu itu masih SD mencari kayu bakar sendiri, untuk membantu orangtua menyediakan kayu bakar untuk memasak makanan di rumah, saat itu BSD masih terdiri dari hamparan kebun karet yang sedang ditebang, dan saya mengambil sisa-sisa kayu keringnya untuk di jadikan kayu bakar di rumah.

Saat masih kecil saya memikul 2 sampai 4 batang kayu karet dan berjalan kaki dari serpong ke pinang, capeknya minta ampun, mungkin waktu itu masih kecil juga, saya lakukan itu hanya untuk mendapatkan kayu bakar buat di rumah, agar bisa masak dan bisa makan. Saya juga terkadang mencari kayu bakar lainnya selain pohon kayu karet, yaitu kayu pohon melinjo, karena kalau masak dengan menggunakan kayu bakar karet atau melinjo, rasa masakannya jadi lebih sedap dan gurih.

Saya sengaja membeli kayu bakar karet ini, saya yakin suatu hari akan sangat berguna, meskipun sekarang sudah ada gas untuk memasak makanan, dan sepertinya anak muda sekarang, atau ibu-ibu muda sekarang, mungkin akan bingung bagaimana memasak dengan kayu bakar dan bagaimana cara menggunakannya.

Apalagi kalau kayunya basah pasti lebih bingung lagi, kalau dulu, saat kayu bakar basah karena kehujanan, kita gunakan baralak ( Daun kelapa kering ) untuk kira gunakan sebagai pemanas awal untuk membuat kayu bakar lainnya yang di masukan ke dalam tungku menjadi kering, namun baralak ini cepet habis jadi boros juga.

Kalau dulu, jaman saya masih kecil biasanya mengaji itu di tajug, di mushola kampung. Berangkat sore sebelum Maghrib dan pulang setelah sholat Isya, karena dulu belum ada lampu, maka untuk penerangan di jalan setelah pulang mengaji yaitu menggunakan baralak, karena cahaya dari pembakaran baralak ini sangat besar dan bisa menerangi jalan sampai jarak beberapa meter, namun baralak ini kelemahannya cepet habis, jadi harus banyak bawa baralaknya.

Kayu-kayu bakar ini sengaja saya bawa ke pinang ke rumah saya, kalau ada yang perlu untuk memasak di rumahnya, silahkan boleh bawa sendiri ke rumah saya, dan kayu bakar ini juga akan saya pergunakan untuk memasak di dapur umum, untuk menyiapkan makanan untuk buka puasa warga Banten, di tengah pandemic seperti sekarang ini.

Saya bersyukur kepada Allah, karena dengan adanya kayu bakar seperti inilah, saya bisa menjadi seperti sekarang, karena kayu bakar ini telah menyambung hidup saya dari hari ke hari waktu itu, dengan mendapatkan nasi dan masakan lainnya yang membuat saya sehat sampai sekarang, serta dapat mengabdikan diri, mewakafkan diri untuk tanah kelahiran Provinsi Banten yang saya cintai.

Jangan melupakan apa yang telah membuat kita berhasil hari ini, karena segala sesuatu yang pernah kita lalui saat-saat masih berjuang, semuanya akan memberikan kenangan manis yang akan membuat kita teringat dan merindukan saat-saat itu.

 

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: