Wahidin Halim dikritik Soal Penanganan Covid di Banten

Wahidin Halim dikritik Soal Penanganan Covid di Banten

0 67

Saya Wahidin Halim dikritik di Forum diskusi dan media sosial itu adalah hal yang biasa, setiap orang berhak untuk memberikan masukan dan kritik membangun untuk menjadikan Banten labih baik lagi, terutama sekarang di saat masih adanya pandemi di Banten.

Saat ini saya banyak mendapatkan masukan informasi tentang kritik kepada saya di berbagai forum dan sosial media, bahwa seolah-olah Provinsi Banten yang dalam kepemimpinan saya saat ini tidak melakukan apa-apa dalam menghadapi covid 19.

Namun faktanya adalah bahwa Pemerintah Provinsi Banten saat ini sudah berada di posisi 12 Nasional dan mendapatkan zona kuning yang sebelumnya berada di posisi 2 Nasional dengan zona merahnya.

Dalam acara telekonferensi evaluasi pembatasan sosial berskala besar di wilayah tangerang raya yang di hadiri oleh berbagai unsur, ada Wagub, Forkopimda, Sekda, Forkopimda serta Walikota dan Bupati di Tangerang Raya, juga seluruh OPD Pemprov Banten.

Saya sampaikan bahwa saya memang jarang tampil dan bicara di televisi. Yang penting saya bekerja dan yakin mengurangi Covid-19. Faktanya, bagaimana seluruh lini baik Polda, Korem, Bupati dan walikota serta para alim ulama yang bekerja keras mencapai ini semua. Karena kita tahu apa yang harus kita lakukan, Dan ini faktualnya, Banten benar-benar menunjukkan upayanya. Bisa tanya kepada para bupati dan walikota.

Wahidin Halim dikritik di Medsos soal penanganan covid 19 di Banten

Dari hasil evaluasi tersebut, disepakati bahwa PSBB di wilayah Tangerang Raya diperpanjang. Namun saya memberikan kelonggaran untuk sejumlah kegiatan tertentu yang berisiko rendah terhadap penularan dan penyebaran Covid-19. Sementara untuk kegiatan yang berisiko sedang, agak tinggi, dan tinggi tetap akan dibatasi.

Sejak pertama adanya istilah new normal saya sudah sependapat dengan ide tersebut, dan yang terpenting adalah harus berusaha untuk membiasakan diri di dalam suatu kehidupan baru. Karena ada perubahan nilai-nilai budaya dan harus melalui internalisasi dan institusionalisasi. Menjadi suatu kebiasaan baru di masyarakat.

Informasi tentang saya Wahidin Halim dikritik di berbagai forum diskusi dan juga sosial media yang ada, menjadikan saya lebih terpacu untuk membuktikan bahwa apa yang sudah dilakukan dapat membuahkan hasil, meskipun langkah-langkah yang dilakukan oleh Pemprov Banten di bantu Forkopimda, Walikota dan Bupati di Banten tidak mendapatkan expose dari portal media besar di Indonesia.

Bahwa sejak awal pembiasaan Protokol Kesehatan Covid-19 bisa jadi konflik bagi diri dan sebagian masyarakat. Namun lama kelamaan karena kesadaran akan pentingnya menghadapi pandemi akhirnya jadi berkompromi dengan kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai baru. Sebuah proses yang membutuhkan waktu.

Kita membutuhkan waktu sampai terjadi internalisasi diri. Kalau sudah menyatu, dan sudah jadi ter-institusionalisasi, Insya Allah tanpa sosialisasi lagi kita akan sudah ter biasa dan merasakan pentingnya dan manfaat suatu kehidupan baru

Banyak kalangan yang ingin tahu tentang cara-cara Provinsi Banten mencapai Zona Kuning dari sebelumnya sebagai Zona Merah dan epicentrum Covid-19. Bahwa resep yang paling ampuh adalah soliditas, konsolidasi, koordinasi dan komunikasi di antara semua unsur yang ada di Provinsi Banten.

Inilah yang saya merasa bangga dan bahagia. Ketika Walikota, Bupati, Polisi, TNI dan seluruh unsur lapisan masyarakat solid. Dan ternyata masyarakat dengan kesadarannya ikut menciptakan budaya baru tanpa diperintah lagi.

Kita melakukan berbagai langkah-langkah yang akan terus diuji lagi dan harus mendapatkan jaminan. Panduan pendekatan dengan format yang bisa menurunkan kuning menjadi hijau perlu pertimbangan dari semua pihak. Agar bisa menembus dan semangat dari merah, menjadi kuning dan terakhir bisa menjadi zona hijau.

Sehingga kita benar-benar tahu langkah-langkah apa yang harus kita lakukan agar kita mendapatkan standarisasi yang jelas untuk hal ini, kita sepakat untuk memperpanjang PSBB.

Untuk ritual keagamaan menjelang Idul Adha dan Hari Raya Qurban agar jangan sampai terganggu karena ketatnya peraturan. Hal yang sudah terbiasa menjadi tradisi seperti Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban jangan di RPH ( Rumah Potong Hewan ) tapi tetap perlu diberikan kelonggaran untuk dilaksanakan di Masjid-masjid dengan protokol kesehatan yang ketat.

Setiap orang bebas untuk memberikan masukan, bahkan kepada saya seorang Wahidin Halim dikritik itu hal yang biasa, artinya orang-orang memperhatikan kinerja saya sebagai Gubernur Banten dalam melindungi seluruh warga Banten.

Leave A Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: